Persyaratan Kualitas Air Minum Berdasarkan WHO

2.1  Persyaratan Kualitas Air
         Sesuai dengan ketentuan badan dunia (WHO) maupun badan setempat (Departemen Kesehatan) serta ketentuan atau peraturan lain yang berlaku seperti APHA (American Public Health Association atau Asosiasi Kesehatan Masyarakat AS), layak tidaknya air untuk kehidupan manusia ditentukan berdasarkan persyaratan kualitas secara fisik, secara kimia dan secara biologis. 7
1.      Persyaratan kualitas secara fisik
a.       Kekeruhan
         Kekeruhan adalah efek optik yang terjadi jika sinar membentuk material tersuspensi   di   dalam   air.   Kekeruhan   air    dapat   ditimbulkan   oleh   adanya
bahan - bahan organik dan anorganik seperti lumpur dan buangan, dari permukaan tertentu yang menyebabkan air sungai menjadi keruh.  Kekeruhan walaupun hanya sedikit dapat menyebabkan warna yang lebih tua dari warna sesungguhnya. 
Air yang mengandung kekeruhan tinggi akan mengalami kesulitan bila diproses untuk sumber air bersih.  Kesulitannya antara lain dalam proses penyaringan.  Kalaupun proses penyaringan dapat dilakukan akan memerlukan biaya yang lebih besar dan mungkin pula mahal.  Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa air dengan kekeruhan tinggi akan sulit untuk didisinfeksi, yaitu proses pembunuhan terhadap kandungan mikroba yang tidak diharapkan.  Tingkat kekeruhan dipengaruhi oleh pH air, kekeruhan pada air minum umumnya telah diupayakan sedemikian rupa sehingga air menjadi jernih.  3,7
Kekeruhan pada air dapat dideteksi dengan menggunakan alat turbidimeter dan untuk melihat macam zat terlarut yang penyebab kekeruhan tersebut digunakan elektrolyzer.  Dimana tujuan dari deteksi kekeruhan pada air adalah untuk mengetahui macam partikel penyebab pencemaran air yang di deteksi.  3

b.      Bau
Bau pada air dapat disebabkan karena benda asing yang masuk ke dalam air seperti bangkai binatang, bahan buangan, ataupun disebabkan karena proses penguraian senyawa organik oleh bakteri.   Pada peristiwa penguraian senyawa organik yang dilakukan oleh bakteri tersebut dihasilkan gas – gas berbau menyengat dan bahkan ada yang beracun.   Pada peristiwa penguraian zat organik berakibat meningkatkan penggunaan oksigen terlarut di air (BOD = Biological Oxighen Demand) oleh bakteri dan mengurangi kuantitas oksigen terlarut (DO = Disvolved Oxigen) di dalam air.  Senyawa – senyawa organik umumnya tidak stabil dan mudah dioksidasi secara biologis dan kimia menjadi senyawa stabil atau biasa dikenal dengan istilah BOD dan COD.  Kebutuhan oksigen biologi (BOD) adalah parameter kualitas air lain yang penting.  BOD menunjukkan banyaknya oksigen yang digunakan bila bahan organik dalam suatu volume air tertentu dirombak secara biologis.  Sedangkan kebutuhan oksigen kimia (COD) merupakan suatu cara untuk menentukan kandungan bahan organik dalam air buangan dan perairan alami. Dari segi estetika, air yang berbau, apabila bau busuk seperti bau telur yang membusuk (misalnya oleh H2S) ataupun air yang berasal secara alami, tidak dikehendaki dan tidak dibenarkan oleh peraturan yang berlaku.   Pada air minum tidak boleh ada bau yang merugikan pengguna air.  3,7
Bau pada air minum dapat dideteksi dengan menggunakan hidung.  Tujuan deteksi bau pada air minum yaitu untuk mengetahui ada bau atau tidaknya bau yang berasal dari air minum yang disebabkan oleh pencemar.   Apabila air minum memiliki bau maka dapat dikategorikan sebagai air minum yang tidak memenuhi syarat dan kurang layak untuk di manfatkan sebagai air minum. 3

c.       Rasa
Rasa yang terdapat di dalam air baku dapat dihasilkan oleh kehadiran organisme seperti mikroalgae dan bakteri, adanya limbah padat dan limbah cair seperti hasil buangan dari rumah tangga dan kemungkinan adanya sisa – sisa bahan yang digunakan untuk disinfeksi misalnya klor.  Timbulnya rasa pada air minum biasanya berkaitan erat dengan bau pada air tersebut.  Pada air minum, rasa diupayakan agar menjadi netral dan dapat diterima oleh pengguna air.  3,7
         Rasa pada air minum dapat dideteksi dengan menggunakan indera penyerap.   Dimana tujuan dari deteksi rasa pada air minum adalah untuk mengetahui kelainan rasa air dari standar normal yang dimiliki oleh air, yaitu netral.  3
d.      Warna
Warna pada air sebenarnya terdiri dari warna asli dan warna tampak.  Warna asli  atau true color adalah warna yang hanya disebabkan oleh substansi terlarut.  Warna yang tampak atau apprent color adalah mencakup warna substansi yang terlarut berikut zat tersuspensi di dalam air tersebut.  Warna air dapat ditimbulkan oleh ion besi, mangan, humus, biota laut, plankton dan limbah industri.  Pada air minum disyaratkan tidak berwarna sehingga berupa air jernih. 3
Deteksi warna air dapat dilakukan oleh indra penglihatan, deteksi ini akan lebih akurat jika dilanjutkan dengan deteksi kekeruhan.  Apabila warna air tidak lagi bening, keruh atau tidak lagi jernih misalnya berwarna kecoklatan, dapat diduga air tersebut tercemar oleh besi.  Air yang berwarna penyimpang dengan warna aslinya, tidak baik digunakan sebagai air minum.  Adapun tujuan dari deteksi warna pada air minum ini adalah  untuk mengetahui warna yang tampak pada air.  3

e.       Temperatur
Kenaikan temperatur atau suhu  didalam badan air, dapat menyebabkan penurunan kadar oxigen terlarut (DO = Disvolved Oxygen) DO yang terlalu rendah, dapat menimbulkan bau yang tidak sedap akibat terjadinya degradasi atau penguraian bahan – bahan organik maupun anorganik di dalam air secara anaerobik.   Selain itu dengan adanya kadar residu atau sisa yang tinggi di dalam air menyebabkan rasa yang tidak enak dan dapat mengganggu pencemaran makanan.  7

2.      Persyaratan kualitas secara kimia
Dalam peraturan Menteri Kesehatan R.I. No. 01/Birhukmas/I/1975 tercantum sebanyak 26 macam unsur standar.  Beberapa unsur – unsur tersebut tidak dikehendaki kehadirannya pada air minum, oleh karena merupakan zat kimia yang beracun, dapat merusak perpipaan, ataupun karena sebagai penyebab bau/rasa yang akan menggangu estetika.  Bahan – bahan tersebut adalah nitrit, sulfida, ammonia, dan CO2 agresip.  Beberapa unsur – unsur meskipun dapat bersifat racun, masih dapat ditolerir kehadiannya dalam air minum asalkan tidak melebihi konsentrasi yang ditetapkan.  Unsur/bahan – bahan tersebut adalah phenolik, arsen, selenium, chromium, cyanida, cadmium, timbal dan air raksa. 
Kualitas atau persyaratan air secara kimia yaitu zat kimia organik dan zat kimia anorganik.  Kedua zat tersebut ditekan volume dan konsentrasinya sampai batas limit sehingga kalaupun terpaksa masih ada di dalam air tidak membahayakan penggunaan air minum.  Keberadaan komponen pencemar kimia tersebut di ukur atas tingkat toksisitasnya terhadap kesehatan manusia.  Karena bahan – bahan kimia itu pada umumnya mudah larut dalam air, maka tercemarnya air oleh bahan – bahan kimia yang terlarut khususnya timbal balik perlu dinilai kadarnya untuk mengetahui sejauh mana bahan – bahan terlarut itu mulai dapat dikatakan membahayakan eksistensi organisme maupun menggangu bila digunakan untuk suatu keperluan.  Bagi air minum khususnya, persyaratan chemis yang memiliki hubungan dengan pengaruh toksisitas harus lebih memperoleh perhatian, karena dampaknya dapat menimbulkan keracunan.

3.      Persyaratan kualitas secara biologis
a.       Bakteri
Bakteri merupakan kelompok mikroorganisme yang penting pada penanganan air.  Bakteri adalah jasad renik yang sederhana, tidak berwarna, satu sel.  Bakteri berkembangbiak dengan cara membelah diri, setiap 15 – 30 menit pada lingkungan yang ideal.  Bakteri dapat bertahan hidup dan berkembangbiak dengan cara memanfaatkan makanan terlarut dalam air.  Bakteri tersebut berperan dalam dekomposisi unsur organik dan akan menstabilkan  buangan organik.  Bakteri yang mendapatkan perhatian di dalam air minum terutama adalah bakteri Escherichia coli yaitu koliform yang dijadikan indikator dalam penentuan kualitas air minum.3
b.      Virus
Virus adalah berupa makhluk yang bukan organisme sempurna, antara benda hidup dan tidak hidup, berukuran sangat kecil antara 20 – 100 nm atau sebesar 1/50 kali ukuran bakteri.  Perhatian utama virus pada air minum adalah terhadap kesehatan masyarakat, karena walaupun hanya 1 virus mampu menginfeksi dan menyebabkan penyakit.  Virus berada dalam air bersama tinja yang terinfeksi, sehingga menjadi sumber infeksi.


Pustaka :


Pitojo, S., & Purwantoyo, E.  2002.  Deteksi pencemar air minum.  Aneka Ilmu.  Ungaran.  hal 28 


Suriawira, U.  1996.  Air dalam kehidupan dan lingkungan yang sehat. Alumni Institut Teknologi  Bandung (ITB).  Bandung.  80, 83 – 5

0 komentar:

Komentar yang menggunakan Anonim TIDAK kami tanggapi dan akan kami hapus.
khusus yang berkaitan dengan pertanyaan seputar bahan kimia ataupun sejenisnya diharapkan mencantumkan Nama, Alamat, serta Universitas/Instansi.
Komentar yang mengandung Sara, Pornografi, Perjudian, Pelecehan ataupun sejenisnya dan mengandung Link hidup akan kami jadikan SPAM.
Terima Kasih Atas Perhatiannya